Intro

Singkat cerita saya menghadiri acara yang diadakan oleh kampus. Mulanya saya sangat penasaran bagaimana bentuk acara tersebut karena juga menghadirkan mantan wakil presiden kita, Prof. Boediono. Diluar ekspektasi saya, acaranya pun bisa dibilang sangat mewah dan eksklusif, Good Job! untuk panitia kakak-kakak staf dan Dosen SBM ITB Jakarta.

Leadership Night 2017

Leadership Night 2017

Dalam acara tersebut Prof. Boediono bercerita dan membagi pengalamannya dalam pemerintahan di Indonesia. Beliau bercerita bahwa Indonesia pernah mengalami 4 krisis ekonomi.

  • Pertama, Setengah abad yang lalu atau 1960an, dikarenakan pada 1950an terjadi adanya disharmoni antar sasaran politik dan kebijikan ekonomi. Sri Sultan Hamengkubuwana IX bersama dengan tim yang lain menjadi tokoh yang merevitalisasi ekonomi pada saat itu.
  • Kedua, 1980an atau pertengahan 90an, harga minyak anjlok sehingga ekonomi Indonesia juga ikut “mandek”. Pada saat itu Indonesia menjadi pengekspor minyak. Ditambah lagi saat itu penerimaan APBN lebih dari 60% dari migas dan 70% ekspor indonesia hanyalah migas. Salah satu jalan keluar ialah harus merombak ekonomi yang hanya mengandalkan minyak.
  • Ketiga, ASEAN ECONOMIC CRISIS. Pada tahun 1990an negara – negara di ASEAN mengalami krisis capital account. Banyak hal yang menyebabkan hal ini, salah satunya adalah jumlah urbanisasi yang kian tinggi di negara – negara tersebut. Indonesia saat itu memiliki 16 Bank yang buruk atau sakit. Diperparah dengan faktor psikologis pemilik tabungan yang menarik uangnya secara masif karena ketakutan akan krisis ini dan memilih untuk mengamankan uangnya keluar negeri. Krisis ini merupakan krisis yang terburuk dalam sejarah Indonesia. Prof. Boediono menambahkan biaya revitalisasi yang digelontorkan pemerintah pada saat itu bisa mencapai 600 Triliun+.
  • Keempat, GLOBAL ECONOMIC CRISIS pada tahun 2008. Tidak terlalu terasa di Indonesia karena kita mulai belajar dari krisis – krisis sebelumnya. Salah satu dilema yang terjadi saat itu adalah Bank Century. Ada dua opsi pada saat itu, ditutup dan tak dijamin atau diambil alih. Seperti yang kita tahu opsi yang dipilih pemerintah adalah diambil alih.

Mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono menyatakan pemberian Fasilitas Pemberian Kredit Jangka Pendek atau  FPJP kepada Bank Century sebesar 689 milliar dilakukan sebagai langkah pencegahan agar tidak terjadi krisis seperti 1997/1998. Kebayangkan bagaimana susahnya menjadi pengambil keputusan? apalagi keputusan yang menyangkut orang banyak.

Setiap krisis pasti ada biayanya, entah biaya tersebut ditangguh oleh siapa. Bisa Pemerintah, Nasabah, atau Pegawai yang terkena PHK.

Sinergi Politik dan Ekonomi

Saat itu beliau menekankan bahwa bagaimana pentingnya kebijakan politik dan ekonomi pemerintah harus berjalan searah. Ada beberapa catatan saya mengenai paparan beliau:

  • Jangan Under Estimate efek domino yang terjadi seperti Krisis 97-98. Seperti yang kita tau saat itu orang berbondong-bondong menarik tabungannya. Bisa saja saat kita mengabaikan hal itu, krisis seperti 97-98 akan terulang kembali.
  • Dalam masa normal (tidak krisis), Bank yang dirasa “sakit” harus segara disembuhkan. Bisa dengan memperbaiki hingga dengan menutup
  • Preventif Policy lebih baik dari pada Curative Policy
  • Preventif Policy, ada short term dan juga ada long term. Contoh untuk long term antara lain dengan menguatkan produksi dalam negeri, birokrasi yang efisien (Ehm) atau Infrastruktur yang mendongkrak kegiatan ekonomi.

Semua hal itu hanya bisa dilakukan dengan keseimbangan antara kebijakan politik dan analisa ekonomi yang baik pada suatu negara. Dan mungkin ini alasan mengapa pada saat itu Mantan Presiden kita (Bapak SBY) memilih Profesor dari UGM ini menjadi wakilnya. Dengan pengalaman dalam bidang ekonomi, saat itu beliau diharapkan dapat memberi sinergi politik dan ekonomi yang memberi efek yang bagus bagi Indonesia.

 

Reference

http://www.seasite.niu.edu/indonesian/reformasi/krisis_ekonomi.htm

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/07/140716_bankcentury_101

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160728133243-12-147622/mengingat-kembali-insting-sri-mulyani-di-kasus-century/

 

 

 

Share This

Share This

Share this post with your friends!